Practical and Social Education,Sebuah Mesin Pencetak Generasi Pembangun Bangsa

| 1 Komentar »
 

Pendidikan merupakan kebutuhan utama setiap manusia, terutama bagi manusia yang ingin maju dalam berbagai hal, terutama dalam memajukan bangsanya. Kita bisa lihat beberapa negara maju yang ada di dunia, seperti Jepang contohnya. Di Jepang, pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat mendasar. Bahakan dalam setiap waktu luangnya, orang Jepang selalu mengisinya dengan membaca buku yang merupakan jendela dunia. Hal ini terjadi pada semua golongan, bukan hanya orang tua atau anak - anak.

Kepedulian Jepang akan pendidikan mulai terlihat ketika Jepang kalah dalam perang dunia kedua. Ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom dan Jepang kalah dari Sekutu, kaisar Jepang saat itu bukannya mencari pasukan, tetapi yang ia cari adalah para guru. Lalu ia memberikannya wejangan untuk mendidik anak - anak di Jepang agar menguasai iptek. Hal itu terbukti sekarang dengan kemajuan yang telah dicapai Jepang dalam bidang iptek.

Hanya dengan pendidikan, Jepang menjadi maju. Untuk itu, pendidikan sangat penting, terlebih bagi Indonesia yang sekarang ini masih terpuruk di usianya yang sudah cukup tua.

Di Indonesia memang ada pendidikan, akan tetapi sampai sekarang bisa dibilang belum ada hasilnya bagi perkembangan iptek di dunia. Kenapa hal tersebut bisa terjadi. Padahal bangsa kita sudah mengenal pendidikan berpuluh - puluh tahun yang lampau. Tetapi mengapa belum bisa maju.

Hal tersebut sangat ironis. Pasti ada sesuatu yang salah dalam pendidikan di Indonesia yang membuat kemajuan di Indonesia tertatih - tatih. Hal ini dikarenakan dalam pendidikan di Indonesia, yang terpenting adalah nilai. Nilai itu berasal dari ujian teori, seperti ujian nasional. Dalam ujian tersebut, yang menjadi standar kelulusan adalah nilai. Jika nilai di atas standar kelulusan maka ia dinyatakan lulus dan telah menguasai materi. Tidak ada yang bertanya darimana ia dapat nilai di atas standar, hasil kerja sendiri atau hasil kerja bersama. Selain itu juga belum tentu mereka yang dianggap menguasai materi karena lulus itu dapat mempraktekkannya. Apalagi dalam hidup bermasyarakat dan bekerja, nilai tidak dibutuhakan, yang dibutuhkan adalah kemampuan kerja nyata, sikap serta kreativitas.

Untuk itulah diperlukan pendidikan model baru yaitu Practical and Social Education (PSE). PSE adalah pendidikan yang lebih mengutamakan kemampuan kerja nyata atau praktek, perilaku serta sikap. Jadi pendidikan sistem ini tidak mengandalakan teori. Karena pendidikan itu bukan hafalan dan intelegensi tetapi implementasi dalam kehidupan nyata dan bermasyarakat.

Contohnya untuk pendidikan praktek. Pendidikan praktek lebih baik daripada pendidikan teori. Karena pendidikan praktek menguji kemampuan nyata tiap siswa dengan sebuah alat praktikumnya, sehingga tidak ada cara untuk berbuat curang seperti menyontek dan lainnya. Dan lagi hasilnya lebih kualitatif. Sedangkan jika pendidikan teori, yang diujikan adalah hafalan, sehingga kurang mengembangkan kreatifitas siswa. Malah justru membuat siswa mengambil jalan pintas seperti menyontek dan mengepek, sehingga hasil yang dicapai bukanlah hasil nyata. Para ilmuwan zaman dahulu pun melakukan praktek terlebih dulu sebelum berteori. Seperti teori yang menyebutkan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya, itupun didapatkan dari sejumlah praktikum yang diadakan, bukan dari teori sebelumnya. Jadi jelas bahwa praktik lebih utama daripada pendidikan teori.

Lalu dengan pendidikan sosial, sangat diperlukan. Pendidikan sosial diperlukan agar siswa nantinya dapat berperilaku baik dalam lingkungan masyarakat dan dunia kerja. Karena tidak mungkin kita hidup tanpa lingkungan, mayarakat serta komunikasi. Tidak seperti pendidikan teori di Indonesia, tanpa adanya pendidikan sosial, sehingga mengakibatkan output yang jelek seperti munculnya para koruptor dan para kolutor. Terlebih lagi sejak adanya UN, banyak siswa yang menghalalkan segala cara agar lulus, serta banyak sekolah yang berlaku curang agar sekolahnya lulus 100%. Selain itu juga sejak dicabutnya subsidi pendidikan untuk universitas oleh pemerintah, banyak universitas yang melegalkan praktek kolusi dengan program UM - nya yang mengakibatkan kuota mahasiswa yang diterima melalui jalur SPMB semakin sedikit. Sehingga pendidikan menjadi sulit dan mahal. Itulah bila tak adanya pendidikan sosial yang mengajarakan kebenaran dan kesalahan, kejujuran, serta bagaimana cara berperilaku dalam berbagai lingkungan.

Jadi sangat diperlukan perubahan pada sistem pendidikan di Indonesia yang hanya mengandalkan nilai atau kuantitas, bukan kualitas. Serta menyebabkan bangsa ini tertinggal jauh dengan bangsa lain seperti Malaysia dan Jepang. Dan di usianya yang ke - 63 ini, Indonesia harus mulai menerapakn sistem pendidikan Pactical and Social Education, yang merupakan pendidikan yang mengarah pada praktek atau kualitas dan pendidikan sosial. Dan dengan cepat, bangsa ini mampu maju mengejar Jepang dalam kemajuan iptek dan tetap sopan santun dalam berbagai aspek kehidupan di masyarakat serta dekat dengan lingkungan yang telah membesarkannya. Mari segera rubah sistem pendidikan kita yang mengacu pada teori ini menjadi pendidikan model PSE, agar bangsa kita maju dan terus maju.